03 Februari 2010

Memilih Mainan Sesuai Usia Anak


Saat Anda memasuki toko mainan, Anda mungkin terpana melihat begitu banyaknya jenis mainan yang disediakan. Begitu banyak, hingga Anda mengurungkan niat untuk membeli mainan untuk anak Anda. Toh, si kecil juga tetap asyik meskipun "mainannya" hanya toples berisi permen yang berulangkali dituang dan dimasukkan kembali. Atau, serbet yang berulangkali diseretnya dengan kaki ke sana-kemari.

Namun, Anda perlu mengingat, mainan yang baik haruslah yang mendorong tumbuh-kembang anak. Mainan tersebut juga harus disesuaikan dengan karakter anak. Apa yang cocok untuk anak lain, belum tentu disukai anak Anda. Mainan tidak boleh terlalu sulit, karena akan membuatnya frustrasi. Jika terlalu mudah, akan membuatnya bosan. Kemudian, menurut Alvin Eden, M.D., profesor klinis di jurusan Pediatrics, Weil Medical College of Cornell University, New York, saat memilih mainan anak, Anda harus mempertimbangkan tingkat keamanannya. Pada dasarnya mainan tidak boleh memiliki sudut yang tajam, bagian-bagian yang mudah dilepas, tidak mudah patah atau pecah, berukuran cukup besar sehingga tidak dapat dimasukkan ke mulut dan ditelan.

Berikut adalah beberapa permainan sesuai usia anak, sesuai saran Eden:

Baca Selengkapnya...>>


Televisi Membuat Si Kecil Bodoh?


Tahu tidak, menjauhkan si kecil dari televisi ternyata malah akan memberinya kesempatan mengembangkan beragam kecerdasan.

Saat menghadapi si kecil yang rewel, kita sering menggunakan cara gampang yang dianggap "ampuh", yakni mengajaknya nonton teve. Lalu, tak sedikit orang tua yang merasa bangga bila anaknya mampu menghapal kalimat atau lagu maupun akting yang didapatnya dari tayangan teve. Apa iya jurus tersebut memang benar-benar ampuh dalam arti kata sebenarnya? Apakah kemampuan si kecil menghapal lagu, kalimat, atau akting dari teve menjadi pertanda si kecil cerdas?

Ternyata itu semua justru salah kaprah dan tidak benar sama sekali. Membiarkan anak nongkrong sepanjang waktu di depan teve justru membuat kemampuan kerja otaknya jadi tidak terstimulasi dengan baik. Menurut dr. Adre Mayza, Sp.S. dari Tim pendidikan Anak Dini Usia (Padu) Universitas Negeri Jakarta dan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) kasihan sekali bila anak yang masih di bawah usia dua tahun sudah dijejali tayangan televisi.

Baca Selengkapnya...>>

Jangan Salah Tangani Anak Cerdas Berbakat


Anak cerdas dan berbakat istimewa yang tidak mendapatkan pendampingan yang tepat dapat berujung kepada perilaku negatif. Dia tetap pintar, cuma produknya yang berubah. Anak cerdas penggemar program komputer misalnya, malah iseng menciptakan virus pengganggu, ujarnya.

Saat ini, sekolah umum kesulitan mendampingi mereka karena sistem yang terlalu mekanistik, terjadwal, bersistem kelas besar, dan berorientasi menyelesaikan materi. Di tengah kondisi demikian, minimal sekolah harus berupaya mengadakan penilaian terhadap anak cerdas dan berbakat istimewa tersebut dan memberikan pengayaan.

Baca Selanjutnya...>>

Mau Anak Cerdas? Ajak Interaksi dengan Alam


Salah satu cara untuk merangsang minat belajar anak adalah dengan mengajak anak bermain dan belajar mengenal alam. Dr.Tan Shot Yen, M.Hum, seorang medical doctor dan praktisi energy healing mengatakan, pada usia dua hingga lima tahun, anak harus lebih banyak dikenalkan pada kegiatan bermain.

"Di usia balita ini, bagian otak yang banyak berkembang adalah bagian otak tengah. Karena itu anak harus dididik dalam suasana penuh kasih sayang. Diajari lebih dekat melihat alam, melihat hewan dan tumbuhan. Jangan jejali anak dengan pelajaran logika dan eksakta, termasuk bahasa asing," katanya.

Bermain di alam bebas dengan suasana yang menyenangkan akan merangsang potensi kecerdasan anak-anak, baik kecerdasan kognitif, kecerdasan emosional, maupun kecerdasan moral dan spiritualnya.

"Anak-anak yang diberi kesempatan untuk bermain akan tumbuh menjadi anak yang punya sikap toleransi dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya," tambah Dr.Tan, penulis buku Saya Pilih Sehat dan Sembuh ini.

Baca Selanjutnya...>>


02 Februari 2010

Anak Cerdas Bukan Karena Keturunan


Anggapan bahwa kecerdasan anak hanya dapat diturunkan oleh orangtua yang juga cerdas, tampaknya harus diubah. Dengan gizi dan stimulasi yang tepat Anda pun bisa mencetak anak cerdas dan kreatif.

Penelitian menunjukkan bahwa sumbangan faktor genetis terhadap intelegensi seseorang berkisar 40-80 persen. "Kita tidak bisa mengukur berapa persentasi kecerdasan yang diturunkan. Yang pasti anak yang cerdas pun harus distimulasi kemampuan berpikirnya agar kecerdasannya muncul," kata psikolog Roslina Verauli.

Namun bila Anda merasa kecerdasan Anda tergolong rata-rata, tak perlu khawatir nantinya si kecil otaknya kurang "encer". Pasalnya ada faktor lain yang tak kalah penting dalam kecerdasan anak, yakni gizi dan pola asuh orangtua (lingkungan).

Baca Selanjutnya...>>

04 Januari 2010

40 Kesalahan Mendidik Anak

Menurut Pakar Motivasi Dr Hasan Hj Mohd Ali
1) Pemilihan jodoh tanpa memperhitungkan mengenai zuriat.
2) Perhubungan suami isteri tanpa memperhitungkan mengenai zuriat.
3) Kurang berlemah lembut terhadap anak-anak.
4) Memaki hamun sebagai cara menegur kesilapan anak-anak.
5) Tidak berusaha mempelbagaikan makanan yang disaji untuk anak-anak.
6) Jarang bersama anak-anak sewaktu mereka sedang makan.
7) Melahirkan suasana yang kurang seronok ketika makan.
8 ) Membeza-bezakan kasih sayang terhadap anak-anak.
9) Kurang melahirkan kasih sayang.
10) Sering mengeluh di hadapan anak-anak.
11) Tidak meraikan anak-anak ketika mereka pergi & pulang dari sekolah.
12) Tidak mengenalkan anak-anak dengan konsep keadilan.
13) Tidak memberatkan pendidikan agama dikalangan anak-anak.
14) Tidak terlibat dengan urusan pelajaran anak-anak.
15) Tidak programkan masa rehat dan riadah anak-anak.
16) Tidak menggalakkan dan menyediakan suasana suka membaca.
17) Mengizinkan anak menjamah makanan @ minuman yang tidak halal.
18) Tidak tunjuk contoh tauladan yang baik di hadapan anak-anak.
19) Jarang meluangkan masa untuk bergurau senda dengan anak-anak.
20) Terdapat jurang komunikasi di antara ibu bapa dan anak-anak.
21) Tidak menggunakan bahasa yang betul.
22) Suka bertengkar di hadapan anak-anak.
23) Senantiasa menunjukkan muka masam di hadapan anak-anak.
24) Tidak Membimbing Anak-anak supaya mematuhi syarat.
25) Memberi kebebasan yang berlebihan kepada anak-anak.
26) Terlalu mengongkong kebebasan anak-anak.
27) Tidak menunaikan janji yang dibuat terhadap anak-anak.
28) Tidak menunjukkan minat kepada aktiviti anak-anak.
29) Tidak memupuk semangat membaca di kalangan anak-anak.
30) Tidak berminat melayan pertanyaan atau kemusykilan anak-anak.
31) Tidak memberi perhatian terhadap buah fikiran anak-anak.
32) Lambat memberi penghargaan kepada anak-anak.
33) Kerap Meleteri sesuatu kesilapan yang dilakukan oleh anak-anak.
34) Hukuman yang tidak setimpal dengan kesalahan yang dilakukan.
35) Sering mengancam dan menakutkan anak-anak.
36) Menghukum tanpa menyatakan kesalahan yang dilakukan.
37) Tidak konsisten dalam menjatuhkan hukuman keatas anak-anak.
38) Memberi nasihat yang sama kepada anak-anak.
39) Tidak tegas mendidik anak-anak.
40) Tidak menggalakkan anak-anak hidup bekerjasama.

Baca Selanjutnya...>>

09 Desember 2009

Homeschooling; Model Pendidikan Alternatif


Meminjam siklus trend marketing yang dikemukakan Hermawan Kartajaya mengenai perkembangan marketing di Indonesia, yang dimulai dari marketing 1,0 atau Product Centrict Era (produk berkualitas sebagai kunci keberhasilan) kemudian beralih ke marketing 2,0 atau Customer Centric Era ( konsumen sebagai factor utama) hingga marketing 3,0 atau Human Centric Era yang menekankan perlunya Marketer melakukan values driven marketing, maka sesunggunya memiliki kesamaan karakteristik dengan homeschooling. Kesamaan itu dapat dilihat pada beberapa aspek, yakni ;
• Pertama, Mandiri. Dari aspek pendanaan semua biaya merupakan tanggungan sepenuhnya orang tua atau keluarga.
• Kedua, Fleksibel. Dalam teori Homeschooling pemanfaatan dan pengelolaan waktu disesuaikan dengan kebutuhan anak.
• Ketiga, Anak sebagai focus utama. Anak sebagai subjek belajar, pelaku pembelajaran dengan pengertian bahwa kurikulum dan sekolah untuk anak bukan seperti kebanyakan sekolah umum yang menerapkan anak/siswa sebagai objek belajar, dimana anak harus menerima apa saja yang telah ditetapkan oleh guru atau sekolah.
• Keempat, Interaksi berlangsung dua arah dan bersifat bottom-up, tidak seperti sekolah umum yang cenderung menganut system top-down dimana guru yang menentukan apa yang dipelajari dan interaksi cenderung bersifat satu arah.
Pertanyaan sederhana, apa sebenarnya Homeschooling itu?secara harafiah dan kontekstual, homeschooling berarti belajar dirumah. Namun secara konseptual, homeschooling merupakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan orang tua sebagai guru sekaligus pengelola kepada satu atau lebih anaknya dengan pendekatan at Home. Pendekatan at-home mengandung pengertian fleksibilitas dengan aturan rumah yang diberlakukan dalam keluarga.
Model belajar rumah ini sebenarnya sudah lama ada di Indonesia, seperti yang dilakukan oleh beberapa pejuang bangsa seperti Ki Hajar Dewantara, KH Agus Salim dan Buya Hamka. Pada saat itu metode ini lebih dikenal dengan belajar otodidak atau belajar mandiri, dimana keluarga memiliki peran yang sangat besar untuk memberikan berbagai keahlian, seperti pendidikan agama dan moral yang dilakukan sendiri oleh orang tua.

Baca Selanjutnya...>>

Berdamailah Dengan Kebandelan Si Kecil

Kekerasan bukan solusi tepat untuk menghadapi kebandelan Si Kecil. Jika anda cukup cerdik, hadapilah kebandelannya dengan sikap bijak. Sebagai orang tua seringkali dibuat marah, jengkel, kesal akan ulah anak yang kerapkali membantah saat dinasihati. Menghadapi sejumlah perilaku negatif ini orangtua semestinya mulai mengubah perspektif dan memberi penghargaan lebih kepada anak-anak agar tak menjadi-jadi, sebagai berikut:
1. Berikan empowering bukan overpowering
2. Hindari Kebandelan
3. Beri pilihan bukan perintah
4. Ajarkan anak untuk mengatakan "Tidak"

Baca Selanjutnya...
>>

20 November 2009

Lebih Banyak Bermain

Papalia (1995) seorang ahli perkembangan manusia dalam bukunya Human Development mengatakan bahwa anak berkembang dengan cara bermain. Dengan bermain anak–anak menggunakan otot–otot tubuhnya untuk menstimulasi indra–indra tubuhnya, mengeksplorasi dunia sekitarnya, menemukan seperti apa lingkungan yang ia tinggali dan menemukan seperti apa diri mereka sendiri. Lewat bermain fisik anak akan terlatih kemampuan kognitif dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain akan berkembang. Bermain tentunya merupakan hal yang berbeda dengan belajar dan bekerja.

Menurut Hughes(1999) seorang ahli perkembangan anak mengatakan harus ada 5 unsur dalam suatu kegiatan yang disebut bermain. Kelima unsur tersebut adalah:

1.Tujuan bermain adalah permainan itu sendiri dan si pelaku mendapatkan kepuasan karena melakukannya (tanpa target)

2.Dipilih secara bebas. Permainan dipilih sendiri, dilakukan atas kehendak sendiri dan tidak ada yang menyuruh ataupun memaksa.

3.Menyenangkan dan dinikmati

4.Ada unsur khayalan dalam kegiatan

5.Dilakukan secara aktif dan sadar.

Baca Selanjutnya...>>


18 November 2009

Cara Bijak Memarahi Anak

Sebagaimana senyuman yang damai, kadang kita harus memarahi anak. Ini bukan berarti kita meninggalkan kelembutan, sebab memarahi dan sikap lemah-lembut bukanlah dua hal yang bertentangan. Lemah-lembut merupakan kualitas sikap, sebagai sifat dari apa yang kita lakukan. Sedangkan memarahi -bukan marah-merupakan tindakan. Orang bisa saja bersikap kasar, meskipun dia sedang bermesraan dengan istrinya.

Persoalan kemudian, kita acapkali tidak bisa meredakan emosi pada saat menghadapi perilaku anak yang menjengkelkan. Kita menegur anak bukan karena ingin meluruskan kesalahan, tetapi karena ingin meluapkan amarah dan kejengkelan. Tidak mudah memang, tetapi kita perlu terus-menerus belajar meredakan emosi saat menghadapi anak, utamanya saat menghadapi perilaku mereka yang membuat kita ingin berteriak dan membelalak. Jika tidak, teguran kita akan tidak efektif. Bahkan, bukan tidak mungkin mereka justru semakin menunjukkan "kenakalannya".

Sekali lagi, betapa pun sulit dan masih sering gagal, kita perlu berusaha untuk menenangkan emosi saat menghadapi anak sebelum kita menegur mereka, sebelum kita memarahi mereka.

Selebihnya, ada beberapa catatan yang bisa kita perhatikan: Ajarkan Kepada Mereka Konsekuensi, Bukan Ancaman.

Baca Selanjutnya...>>


17 November 2009

Latih Kecerdasan Anak Sejak Lahir

VIVAnews - Mempunyai anak cerdas menjadi dambaan setiap orangtua. Agar anak Anda cerdas, perlu stimulan-stimulan perangsang kerja otak sejak dini.

Psikiater anak dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Dr. dr. Tjhin Wiguna, SpKJ, mengatakan, stimulan bisa diberikan sejak bayi lahir.

"Rangsangan yang dilakukan harus dalam suasana bermain, terus menerus dan bervariasi," katanya dalam talkshow 'Bagaimana Membentuk Seorang Anak Yang Sehat, Cerdas, dan Berkualitas' di Jakarta, Sabtu, 10 Oktober 2009.

Rangsangan akan membantu pembentukan cabang-cabang sel otak dan melipatgandakan jumlah hubungan antarsel otak sehingga terbentuk sirkuit otak yang lebih kompleks, canggih, dan kuat. Pemberian stimulan bervariasi tergantung umur si anak.

Baca Selanjutnya...>>

Kiat Mendorong Anak Menjadi Aktif


Umumnya anak yang aktif dan enerjik lebih sehat, kuat dan tangkas. Karena aktivitas fisik mereka cukup, sehingga membantu menjaga kesehatan dan staminanya. Anak sehat dan aktif juga memiliki kapasitas belajar lebih baik, sehingga lebih tangggap dan dapat berkonsentrasi dengan baik di sekolah.
Doronglah putra-putri untuk lebih aktif dan enerjik di masa pertumbuhan mereka, agar kelak tumbuh sehat dan bugar ketika dewasa. Untuk mendorong hal tersebut, berikut ini beberapa tip/kiat untuk dapatkan menjadikan anak menjadi aktif.

Kenali Anak di Usia Aktif
Untuk mendukung pertumbuhan anak di usia aktif (usia sekolah) maka, kegiatan di dalam rumah yang relatif kurang aktivitas fisiknya perlu diimbangi dengan kegiatan di luar rumah yang relatif lebih banyak aktivitas fisik.

Baca Selengkapnya...>>